Beranda kami
Dari mereka untuk Celah Teduh
Baca juga
Yogyakarta Tanpamu
Fragmen I / Yogyakarta Kasih, sepasang mataku jatuh kepada hangat temaram kota, lampu jalan, bangku-bangku taman, andong, dan lalulalang pedestrian. Hampir lupa kusebutkan, ada juga bangunan tua yang berjajar, pertunjukan angklung dan tarian-tarian. Mataku berbinar, terpaku pada sudut kota ini semalam panjang. Aku melangkah berbungah, ku nikmati alunan musik keroncong dan riuh suara-suara, berjalan pelan melintasi malioboro dan berhenti di titik ‘0’ km yogyakarta, kapan kita bercerita disini menghabiskan hari bersama? Lengkap rasanya, bermotor melewati tugu jogja menggoncengmu dan menunggu lampu hijau di tontoni burung-burung yang berbaris di tiang listrik
Tiga surat untuk Kenang
1; Kenang, aku Arum. Akan ada tiga lipatan surat yang sedang menuju mu. Dibalik tulisan-tulisan ku yang rumit, dan setiap malam dalam seminggu ini mempertanyakan keadaanku, aku tetap menulis banyak kata untukmu. Mungkin kamu akan malas membacanya, namun sesingkat-singkatnya suratku, ia akan terbaca dalam bentuk rindu. Kenang, biar aku menebak-nebak sedang apa kamu saat ini. Saat kegiatan yang produktif menggelapkan matamu, menyingkirkan seluruh perasaan mu padaku. Memilih untuk berkutat pada apa-apa yang membuatmu lelah dan sulit tidur, aku masih terjaga, berharap kamu sampai pada ingatan tentang aku. Kenang, dalam doa-doa
Senja Terakhir Berlabuh di Leiden
“Jadi … kapan kamu akan melamar Anjani, Damar? Ibu juga ingin bisa melihat pernikahanmu nanti.” “Iya Bu, sesegera mungkin Damar akan melamar Anjani, mungkin nanti setelah Damar sidang magister Bu” Itulah percakapanku dengan ibu melalui telepon tempo hari lalu. Entah mengapa seminggu ini ibu sering menelponku dan selalu saja menanyakan kapan aku akan melamar Anjani. Jujur saja, pertanyaan itu cukup mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Memang aku menyukai Anjani, tapi tidak secepat ini aku hendak melamarnya. Terlalu cepat bagiku untuk mengatakan bahwa aku akan melamar dia. Bahkan, perkenalanku dengan dia pun
Who you are
“Kita tidak pernah memahami siapapun terkecuali diri sendiri” Sore itu cahaya matahari menyorot, menembus sela-sela gedung. Hamparannya mengenai Sebagian kulit, ditemani alunan musik yang melantun melalui kedua earpods yang dikenakan oleh Rosalina. Seketika bus datang menghampiri, dan ia berjalan perlahan menaiki bus tersebut. Dia menuju sisi belakang bus tepat di jajaran kursi nomor tiga. Duduk di samping pria yang sedang tertidur yang tampak cukup kelelahan. Bus melaju perlahan meninggalkan keramaian serta kebisingan kelakson berganti dengan suara gemerisik debu yang menabrak kaca. Rosalina pun melepas kedua earpods-nya, merapihkannya dan menaruhnya ke
Seni dan Kebebasannya: Haruskah Seni Selalu Independen dan Kritis?
Seni seringkali membawa nilai-nilai yang fenomenal, merespon kompleksitas paradigma dan situasi yang kemudian ditransmisikan secara multidimensi. Sehingga, setiap kali sebuah pertunjukan dipentaskan sebagai kritik kekuasaan, setiap kali karya ditampilkan di ruang korporasi, atau sebuah lagu diaransemen ulang untuk kepentingan publik, pertanyaan menggelitik terkait ‘di mana sebenarnya seni harus berdiri?’ muncul. Pada dasarnya, seni tidak memiliki definisi tunggal yang kaku dan baku. Setidaknya sejak dikenal sebagai satu jenis aliran keilmuan, telah banyak variasi pengertian seni yang disesuaikan pada konteks dan sudut pandang. Menurut Aristoteles misalnya, seni merupakan bentuk mimesis (peniruan) yang
Agenda bulanan
Publikasi Majalah Elektronik
Berita Musiman
Seni dan Kebebasannya: Haruskah Seni Selalu Independen dan Kritis?
Seni seringkali membawa nilai-nilai yang fenomenal, merespon kompleksitas paradigma dan